Kepala Desa Wonokupang Sidoarjo Ini Akui Duit APBDes Masuk Rekening Pribadi

 

Kepala Desa Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Herry Suryanto terlihat tenang kali digelandang penyidik kejaksaan menuju Lapas Sidoarjo, Senin (30/4/2018).

Masuk mengenakan seragam dinasnya, Herry dibawa jaksa dari ruang penyidikan menuju mobil tahanan, untuk setelah itu ditransfer ke Lapas Sidoarjo sesudah resmi ditahan oleh penyidik.

Kendati sekian, Herry enggan menjawab pertanyaan wartawan. Dia hanya diam saat ditanya sejumlah wartawan kali berjalan dari ruang penyidikan menuju mobil tahanan.

Sementara info yang sukses dihimpun, pada pemeriksaan tersangka telah mengakui perbuatannya. Tergolong memanfaatkan duit APBDes 2017 untuk kepentingan pribadinya.

Membaca: Kades Wonokupang Ditahan Kejari Sidoarjo

Kasus ini mulai disidik kejaksaan semenjak 4 April 2018 kemudian. “Penyidikan berawal dari laporan yang masuk bahwa sudah ada dugaan penyelewengan dana APBDes di sana,” ungkap Kepala Kejaksaan Negara (Kajari) Sidoarjo, Budi Handaka.

Dikenal, dari total APBDes tahun 2017 sejumlah Rp 1,8 miliar, sudah ada sejumlah anggaran yang tak bisa dipertanggung jawabkan. Nilainya sekeliling Rp 277 juta.

Dana dari pemerintah yang dikucurkan ke desa pastinya tak boleh dicairkan sendiri oleh kades. Paling kecil mesti sudah ada dua tanda tangan, yaitu Kades Herry dan bendahara desa bernama Misdianto.

Anggaran untuk sejumlah proyek dicairkan sebagaimana mestinya. Tetapi, sudah adasejumlah proyek yang sesudah duit dicairkan langsung dimasukkan ke rekening pribadi kades.

Modusnya, sesudah mencairkan duit bersama bendahara desa, yang dibawa pulang ke rumah tersangka. Sebabnya, duit boleh dipinjam dahulu kalau sudah ada keperluan.

Bahkan, sebagai kades, Herry pun membayar sendiri setiap kebutuhan pada sejumlah proyek yang dikerjakan di desanya. Bendahara desa cuma digunakan tanda tangannya untuk mengambil duit dari Bank Jatim.

Membaca: Tari Tayub dari Tuban, Suguhkan Tarian yang Memanggul Konten Rohani

Tetapi, dari demikian banyak proyek yang sudah ada, ternyata tak setiap terealisasi. “Proyek yang tak terlaksana dan duit telah dicairkan sekeliling Rp 277 juta. Duit yang dicairkan bersama bendahara desa dimasukkan ke rekening tersangka atas perintahnya sendiri,” sambung Budi Handaka.

Nah, duit inilah yang dinikmati sendiri oleh tersangka. Sehingga terjadi kerugian negeri, dan membawa dia meringkuk di pada telkomsel penjara Lapas Sidoarjo pada perkara dugaan korupsi.